Tingkat Kemampuan Wirausaha Dalam Menghadapi Rasa Takut
Kemampuan wirausaha dapat dibagi berdasarkan tingkatan dalam seberapa besar ia mampu mengatasi rasa takut akan kegagalan atau kesulitan yang dihadapi. Tingkatan kemampuan wirausaha dibagi menjadi lima tingkat, yaitu sebagai berikut.
1. Tingkat kemampuan wirausaha dalam menghadapi rasa takut: kecil sekali
Pada tingkat ini seseorang cenderung menghindari risiko (avoid a risk), sering disebut risk avoider or averter (penghindar risiko). Ciri-ciri risk avoider or averter (penghindar risiko):
- Senang mempertahankan rasa nyamannya (comfort zone). Selalu ingin menikmati keadaan saat ini yang menghanyutkan diri. Biasanya orang seperti ini senang dengan kedamaian dan kenyaman sesaat, menghibur diri sendiri dan senang mencari alasan apapun untuk dilontarkan agar bisa terhindar dari kerja keras.
- Selalu melihat kesulitan di depan mata bukan kemampuannya.
- Merupakan orang yang pesimis, bukan optimis.
- Melihat dengan rasa takut akan risiko (risk phobia).
- Pemalas dan enggan bekerja keras.
- Banyak alasan untuk menghindari kerja keras.
- Berusaha menutupi rasa takutnya.
- Senang menganggur, tidak ada kerjaan yang berat.
- Senang bekerja dengan hasil yang instan.
- Tidak mau menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk meraih hasil yang lebih baik.
Semua hal di atas disebut mental block bagi kesuksesan Anda. Pada tingkat ini tidak ada jiwa kewirausahaan (zero entrepreneurial skil) sehingga tidak pernah sukses. Kondisi yang sering terjadi adalah tidak mempunyai pekerjaan tetap (unemployement atau job less). Hindari berada pada level ini, karena sudah pasti Anda tidak akan sukses.
Baca Juga: Alasan Seseorang Tidak Berminat Menjadi Wirausaha, Padahal Rugi Loh
2. Tingkat kemampuan wirausaha dalam menghadapi rasa takut: sedang
Pada tingkat ini seseorang selalu menggunakan pengetahuannya untuk bekerja lebih baik lagi. Tingkat ini disebut comfort risk calculation taker (orang yang selalu menghitung risiko yang ditanggung harus lebih kecil dari keuntungan yang diperoleh), sehingga orang yang berada pada tingkatan ini berorientasi hanya mencari pekerjaan yang nyaman, aman dari PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) atau yang biasa-biasa saja.
Ciri-cirinya comfort risk calculation taker (orang yang selalu menghitung risiko yang ditanggung harus lebih kecil dati keuntungan yang ia peroleh), antara lain:
- Senang bekerja tetapi yang nyaman dan aman.
- Mengedepankan keuntungan daripada kerugian.
- Tidak berpandangan jauh dan melihat masa lalu (past oriented) sebagai acuan untuk berpikir saat ini.
- Berpikir selalu realistis (kenyataan).
- Berpikir lebih aman bekerja daripada berwirausaha.
- Mencari kerja sebagai pegawai yang ada tunjangan pensiunnya, walaupun di masa mendatang nilainya sudah tidak berarti lagi untuk kehidupannya.
- Berpikir cukup (menerima apa adanya) tetapi tidak ada kemampuan berpikir untuk mencari sesuatu yang lebih baik.
Untuk level kewirausahaan ini disebut level intrapreneurship atau employee entrepreneurial skill. Tingkatan ini bisa sukses menjadi top eksekutif apabila menghilangkan hambatan-hambatan pikiran dan mental (mental block) yang ingin santai, nyaman, tidak ada semangat, dan pikiran negatif lainnya. Dapat sukses bila lebih giat dari meningkatkan kemampuan kewirausahaannya dengan cara belajar untuk meningkatkan kemampuannya.
3. Tingkat kemampuan wirausaha dalam menghadapi rasa takut: tinggi
Pada tingkat ini seseorang berani menanggung atau mengatasi risiko kegagalan dan berani menghadapi rasa takutnya karena ia merasa mampu, mempunyai pengetahuan, dan pengalaman kerjanya sesuai dengan apa yang ia kerjakan dalam bisnisnya. Tingkatan ini disebut risk calculation taker atau berani mengambil risiko usaha dengan perhitungan risiko yang paling optimal.
Ciri-ciri risk calculation taker (berani mengambil risiko usaha), antara lain:
- Berani mengambil keputusan untuk berwirausaha bila ia mampu melakukannya karena berdasarkan keahlian, pengalaman, dan pengetahuan (latar belakang pendidikan).
- Selalu bekerja secara individu dalam mengelola usahanya dan mengambil keputusan.
- Bisnis dan usahanya tidak atau belum dikelola dalam organisasi yang baik.
- Usahanya sangat dipengaruhi oleh waktunya sendiri.
- Punya pandangan jauh ke depan
- Bosan bekerja terus-menerus.
- Ingin menjadi bos bagi dirinya sendiri.
- Berpikir realistis.
Untuk itu, tingkatan kewirausahaan ini sering disebut wirausaha mandiri (individual entrepreneur) atau sering disebut sebagai self bussinessman. Tingkatan ini bisa sukses secara mandiri tetapi ada kelemahannya, yaitu sebagai berikut.
- Bisnis atau usahanya sangat tergantung pada popularitas dirinya atau image dirinya sendiri.
- Usia usahanya biasanya tergantung usia pemiliknya, yaitu sang Wirausaha itu sendiri.
- Membutuhkan bussiness team skill (tim keterampilan usaha) untuk lebih sukses dan besar. Misalnya: leader (pemimpin bisnis), financial and quality control (pengawas keuangan dan kualitas), marketer (pemasar atau penjual), dan organisator (manajer).
- Biasanya menjadi spesialis dalam bisnis tersebut. Contoh: dokter yang membuka praktek, lulusan tata boga membuka restoran, dan ulusan STM mesin membuka bengkel
Hampir sebagian besar orang yang sukses menjadi pengusaha besar berawal dari tingkatan ini. Para lulusan SMA/SMK lebih memiliki peluang untuk memulai dari tingkatan ini dan ternyata bisa lebih cepat sukses. Contoh: pendiri Microsofi, yaitu Bill Gates memulai dari keahlian dari membuat perangkat lunak/software; pendiri DELL Computer, yaitu Michael Dell yang mengawali sebagai tenaga penjual computer; dan pendiri google, yaitu Sergey Brin dan Larry Page yang diawali dari penelitian dan riset.
4. Tingkat kemampuan wirausaha dalam menghadapi rasa takut: kompleks
Pada tingkat ini kemampuan memperhitungkan, mengendalikan, mengatasi, dan menanggung risiko kegagalan usahanya lebih besar dibanding dengan ketiga tingkatan di atas. la berani mengalahkan dan mengatasi rasa takutnya bukan hanya karena pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya saja, tetapi lebih kompleks dari itu. Biasanya jenis usaha yang diambil dan dimulainya lebih berskala industri atau tidak mengarah ke individual entrepreneur (bisnis yang dikelola secara individu). Tingkatan ini disebut manajer risiko bagi dirinya (risk manager).
Ciri-ciri risk manager (manajer risiko), yaitu sebagai berikut.
- Mengambil keputusan dari berbagai sisi, risiko, informasi, dan kondisi untuk suatu nilai (value) yang lebih optimal dan tepat.
- Ada unsur visioner (wawasan ke depan), yang sering terlihat dari keputusan yang ia ambil, sehingga cenderung berkesan itu keputusan nekat (sebenarnya tidak).
- Punya mimpi dan orientasi bisnis berskala besar atau skala industri (well organized).
- Naluri (Instinct) bisnisnya kuat dan didukung oleh kekuatan intuisi yang diambil berdasarkan pengalaman yang ia miliki, informasi, kejadian sebelumnya, pengetahuan yang ia punyai, visualisasi dan imajinasinya yang begitu kuat.
- Kesempurnaan adalah target utamanya.
- Tidak suka menyerah dan cepat berpuas diri.
- Punya keyakinan kuat terhadap apa yang ia pikirkan.
- Seorang pemimpin (leader) yang kuat dan merupakan (pimpinan yang cenderung menggunakan perencanaan yang kuat atau wel plan.
- Kreativitas dan inovasi tinggi.
- Keteguhan hati yang kuat.
- Seorang pimpinan yang disegani.
- Seorang analisator (kuat dalam analisa dan strategi) yang baik.
Baca Juga: FAKTOR KEBERHASILAN WIRAUSAHA YANG BELUM KAMU KETAHUI
5. Tingkat kemampuan wirausaha dalam menghadapi rasa takut: sangat tinggi
Pada tingkat ini kemampuan seseorang dalam hal mengatasi rasa takut akan kegagalan cukup besar sehingga cenderung mengambil keputusan menggunakan intuisinya yang kuat sekali, bahkan bisa cenderung sedikit mengadu keberuntungan. Tingkatan ini di sebut riSk taker atau pengambil risiko. Tingkatan ini bisa dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut.
a. Tingkat risk taker (pengambil risiko) yang lebih realistis dan analitis.
Tingkat ini sering disebut juga "investor" atau penanam modal yang memang menjadi wirausaha dengan tujuan untuk memiliki saham (kepemilikan perusahaan) atas sebuah perusahaan dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan keuntungan baik berupa deviden (pembagian laba kepada pemegang saham sesuai proporsinya) atau kenaikan nilai saham apabila saham tersebut dijual kembali pada orang lain.
b. Tingkat risk taker (pengambil risiko) yang bersifat intuisi dan menggunakan perasaannya (feeling) semata.
Tingkat ini tidak bersifat bisnis, tetapi lebih mengarah pada hobi saja.
kata kunci: tingkat kemampuan wirausaha dalam menghadapi rasa takut: kecil, sedang, tinggi, kompleks, sangat tinggi
Komentar
Posting Komentar