Teori Perilaku Kepuasan: Pendekatan Kardinal & Pendekatan Ordinal

Teori Perilaku Kepuasan: Pendekatan Kardinal & Pendekatan Ordinal
Teori Perilaku Kepuasan: Pendekatan Kardinal & Pendekatan Ordinal


Teori Perilaku Kepuasan

Ada dua pendekatan yang digunakan untuk mengukur besarnya kepuasan konsumen, yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal.

1. Pendekatan Kardinal

Dasar analisis dari pendekatan kardinal adalah dengan meng gunakan konsep utilitas marginal (marginal utility). Adapun asumsi dasar yang digunakan adalah sebagai berikut.

  • Konsumen bertindak rasional (ingin mencapai kepuasan maksimal dalam mengonsumsi sesuai dengan anggaran yang dimilikinya).
  • Pendapatan yang diterima konsumen tetap.
  • Uang memiliki nilai subjektif yang tetap

Menurut pendekatan kardinal, utilitas (kegunaan) suatu barang dapat diukur dengan satuan util. Misalnya, cangkul bagi seorang petani akan lebih berguna daripada dimiliki seorang fotografer. Demikian sebaliknya, kamera akan lebih berguna di tangan seorang fotografer daripada cangkul.

Ada beberapa konsep dasar yang digunakan dalam pendekatan kardinal, di antaranya kosep Utilitas Total/Total Utility (Kegunaan Total) dan Utilitas Marjinal/Marginal Utility (Kegunaan Marjinal). Utilitas total adalah kepuasan yang dinikmati konsumen ketika mengonsumsi barang atau jasa secara total. Adapun utilitas marjinal adalah tambahan kepuasan (utilitas) yang dinikmati konsumen dari setiap tambahan satu unit barang dan jasa yang dikonsumsi.

Baca juga: Pengertian Perilaku Konsumen dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

a. Hukum Gossen I

Sebelum membahas lebih lanjut teori perilaku konsumen, coba Anda perhatikan orang yang sedang kehausan dan disediakan 5 gelas air. Apa yang dilakukan orang tersebut dengan 5 gelas air tersebut? Tentunya orang tersebut akan terus menerus meminumnya hingga dia merasa mendapatkan suatu kepuasan yang tinggi.

Menurut Anda apakah seseorang yang kehausan akan meminum semua gelas? Jawaban Anda pasti tidak. Dengan demikian, nilai kepuasan gelas pertama dengan gelas yang berikutnya memiliki nilai kepuasan yang berbeda. Hal ini oleh Hermann Henrich Gossen diungkapkan dalam Hukum Gossen I yang menyatakan "Jika pemenuhan suatu kebutuhan dilakukan secara terus menerus, maka kenikmatan atas pemenuhan itu semakin lama akan semakin berkurang hingga akhirnya dicapai titik kepuasan"

Berdasarkan hasil penelitian seorang ahli ekonomi Jerman yang bernama Gossen, ia membuat suatu kesimpulan bahwa "Jika pemuas terhadap suatu benda berlangsung terus menerus, kenikmatan mula-mula mencapai kepuasan tertinggi. Namun makin lama makin turun, sampai akhirnya mencapai titik nol."

b. Hukum Gossen II

Dalam pemenuhan kebutuhan tentunya tidak semua orang hanya memenuhi satu kebutuhan saja. Misalkan, Anda mempunyai uang sebesar Rp 10.000,00. Apakah uang Anda akan dibelikan makanan seluruhnya? Tentunya Anda tidak akan menghabiskan uang Anda seluruhnya untuk membeli makanan. Sebagai seorang  pelajar, Anda akan menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan lainnya, seperti membeli buku tulis, buku bacaan, alat tulis. Hal ini menunjukkan bahwa jika orang melakukan pemenuhan kebutuhan maka akan memperhatikan berbagai macam kebutuhan lainnya, dan berusaha mencapai kepuasan yang mendekati sama dari berbagai macam pemenuhan kebutuhan tersebut. Kecenderungan pemenuhan kebutuhan tersebut dituangkan dalam Hukum Gossen II yang menyatakan "Pada dasarnya manusia cenderung memenuhi berbagai macam kebutuhan sampai pada tingkat intensitas (tingkat kepuasan) yang sama".

Untuk lebih memahami Hukum Gossen II ini, kita uraikan contoh uang Rp10.000,00 di atas. Misalkan dari uang Rp 10.000,00 Anda gunakan untuk makan Rp 3.500,00 dengan nilai kepuasan 7, untuk buku tulis dan alat tulis Rp 4.000,00 dengan nilai kepuasan 6, untuk naik kendaraan Rp 1.000,00 dengan nilai kepuasan 6,5 untuk buku bacaan Rp 1.500,00 dengan nilai kepuasan 7.

Dari contoh di atas, Anda telah mengalokasikan uang secara rasional dan wajar, hingga masing-masing kebutuhan dapat dipenuhi dengan nilai kepuasan yang mendekati sama, yaitu antara 6 sampai dengan 7.

Baca juga: Perilaku Produsen dalam Kegiatan Ekonomi


2. Pendekatan Ordinal

Pendekatan kedua yang digunakan dalam meneliti perilaku konsumen adalah pendekatan ordinal. Pendekatan ini pertama kali diperkenalkan oleh Francis Edgewort dan Vilfredo Pareto. Pendekatan ini menganggap, utilitas suatu barang tidak perlu diukur, tetapi cukup untuk diketahui. Hal ini disebabkan konsumen mampu menyusun sendiri urutan tinggi rendahnya utilitas yang diperoleh dari mengonsumsi sejumlah barang. Asumsi dasar yang digunakan dalam teorinya adalah sebagai berikut.

  • Konsumen bertindak rasional (ingin memaksimumkan kepuasan).
  • Konsumen memiliki pola pilihan (preferensi) terhadap barang yang disusun berdasarkan urutan besar kecilnya (pilihan) nilai guna.
  • Konsumen memiliki sejumlah uang tertentu.
  • Konsumen konsisten dengan pilihannya.

Pendekatan ordinal dapat dianalisis dengan menggunakan kurva indiferen (indifferen.ce curve) dan garis anggaran (budget line).


Teori Perilaku Kepuasan: Pendekatan Kardinal & Pendekatan Ordinal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Soal Pilihan Ganda dan Kunci Jawaban Administrasi Perkantoran Kelas X Evaluasi Bab 3 Manajemen Perkantoran

ASAS-ASAS MANAJEMEN PERKANTORAN SERTA KEKURANGAN DAN KELEBIHANNYA

Kumpulan Soal Pilihan Ganda dan Kunci Jawaban Buku Otomatisasi Tata Kelola Kepegawaian Kelas XI Evaluasi Bab 6 Sumpah/Janji Pegawai